Ketika melihat pasangan yang baru menikah, saya suka tersenyum. Bukan apa-apa, saya hanya ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar spontan dari wajah-wajah syahdu mereka. Tangan yang saling berkaitan ketika berjalan, tatapan-tatapan penuh makna, bahkan sirat keengganan saat hendak berpisah. Seorang sahabat yang tadinya mahal tersenyum, setelah menikah senyumnya selalu saja mengembang. Ketika saya tanyakan mengapa, singkat dia berujar "Menikahlah! Nanti juga tahu sendiri". Aih...
Menikah adalah sunnah terbaik dari sunnah yang baik itu yang saya baca dalam sebuah buku pernikahan. Jadi ketika seseorang menikah, sungguh ia telah menjalankan sebuah sunnah yang disukai Nabi. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa Allah hanya menyebut nabi-nabi yang menikah dalam kitab-Nya. Hal ini menunjukkan betapa Allah menunjukkan keutamaan pernikahan. Dalam firmannya, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan rasa kasih sayang diantaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kalian yang berfikir." (QS. Ar-Rum [30] : 21)
Menikah itu Subhanallah indah, kata Almarhum ayah saya dan hanya bisa dirasakan oleh yang sudah menjalaninya. Ketika sudah menikah, semuanya menjadi begitu jelas, alur ibadah Suami dan Istri. Beliau mengibaratkan ketika seseorang baru menikah dunia menjadi terang benderang, saat itu kicauan burung terdengar begitu merdu. Sepoi angin dimaknai begitu dalam, makanan yang terhidang selalu saja disantap lezat. Mendung di langit bukan masalah besar. Seolah dunia milik mereka saja, mengapa? karena semuanya dinikmati berdua. Hidup seperti seolah baru dimulai, sejarah keluarga baru saja disusun.
Namun sayang tambahnya, semua itu lambat laun menguap ke angkasa membumbung atau raib ditelan dalamnya bumi. Entahlah saat itu cinta mereka berpendar ke mana. Seiring detik yang berloncatan, seolah cinta mereka juga. Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ke tujuan, tak terhitung pasangan yang terburai kehilangan pegangan, selanjutnya perahu mereka karam sebelum sempat berlabuh di tepian. Bercerai, sebuah amalan yang diperbolehkan tapi sangat dibenci Allah.
Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta di antara Suami-Istri, sungguh itu adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri. Karena cinta Istri kepada Suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dan cinta Suami kepada Istri menetaskan keinginan melindungi dan membimbingnya sepenuh hati. Lanjutnya kemudian.
Saya jadi ingat, saat itu seorang Istri memarahi Suaminya habis-habisan, saya yang berada di sana merasa iba melihat sang Suami yang terdiam. Padahal ia baru saja pulang kantor, peluh masih membasah, kesegaran pada saat pergi sama sekali tidak nampak, kelelahan begitu lekat di wajah. Hanya karena masalah kecil, emosi Istri meledak begitu hebat. Saya kira akan terjadi 'perang' hingga bermaksud mengajak anak-anak main di belakang. Tapi ternyata di luar dugaan, Suami malah mendaratkan 'sun' sayang penuh mesra di kening sang Istri. Istrinya yang sedang berapi-api pun padam, senyum malu-malunya mengembang kemudian dan merdu uaranya bertutur "Maafkan Mama ya Pa...". Gegas ia raih tangan Suami dan mendekatkannya juga ke kening, rutinitasnya setiap kali Suaminya datang.
Jauh setelah kejadian itu, saya bertanya pada sang Suami kenapa ia berbuat demikian. "Saya mencintainya, karena ia Istri yang dianugerahkan Allah, karena ia Ibu dari anak-anak. Yah karena saya mencintainya," demikian jawabannya.
Ibnu Qayyim Al-Jauziah seorang ulama besar, menyebutkan bahwa cinta mempunyai tanda-tanda. Pertama, ketika mereka saling mencintai maka sekali saja mereka tidak akan pernah saling mengkhianati, Mereka akan saling setia senantiasa, memberikan semua komitmen mereka.
Kedua, ketika seseorang mencintai, maka dia akan mengutamakan yang dicintainya, seorang Istri akan mengutamakan Suami dalam keluarga, dan seorang Suami tentu saja akan mengutamakan Istri dalam hal perlindungan dan nafkahnya. Mereka akan sama-sama saling mengutamakan, tidak ada yang merasa superior.
Ketiga, ketika mereka saling mencintai maka sedetikpun mereka tidak akan mau berpisah, lubuk hatinya selalu saling terpaut. Meskipun secara fisik berjauhan, hati mereka seolah selalu tersambung. Ada do'a Istrinya agar Suami selamat dalam perjalanan dan memperoleh sukses dalam pekerjaan. Ada tengadah jemari Istri kepada Allahi supaya Suami selalu dalam perlindunganNya, tidak tergelincir. Juga ada ingatan Suami yang sedang membanting tulang meraup nafkah halal kepada Istri tercinta, sedang apakah gerangan Istrinya, lebih semangatlah ia.
Saudaraku, ketika segala sesuatunya berjalan begitu rumit dalam sebuah rumah tangga, saat-saat cinta tidak lagi menggunung dan menghilang seiring persoalan yang datang silih berganti. Perkenankan saya mengingatkan lagi sebuah hadist nabi. Ada baiknya para istri dan suami menyelami bulir-bulir nasehat berharga dari Nabi Muhammad. Salah satu wasiat Rasulullah saw yang diucapkannya pada saat-saat terakhir kehidupannya dalam peristiwa haji wada';
"Barang siapa -di antara para suami- bersabar atas perilaku buruk dari Istrinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Ayyub atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan barang siapa -di antara para Istri- bersabar atas perilaku buruk Suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Asiah, Istri Fir'aun." (HR. Nasa-iy dan Ibnu Majah)
Kepada saudaraku yang baru saja menggenapkan setengah dien, Tak ada salahnya juga untuk saudaraku yang sudah lama mencicipi asam garamnya pernikahan, Patrikan firman Allah dalam ingatan, "...Mereka (para Istri) adalah pakaian bagi kalian (para Suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka..." (QS. Al-Baqarah [2] : 187)
Torehkan hadist ini dalam benak, "Sesungguhnya ketika seorang Suami memperhatikan Istrinya dan begitu pula dengan Istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala Suaminya rengkuh telapak tangan Istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa Suami-Istri itu dari sela jemarinya." (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Alkhudzri r.a.)
Kepada sahabat yang baru saja membingkai sebuah keluarga, Kepada para pasutri yang usia rumah tangganya tidak lagi seumur jagung, Ingatlah ketika Suami mengharapkan Istri berperilaku seperti Khadijah Istri Nabi, maka Suami juga harus meniru perlakukan Nabi Muhammad kepada para Istrinya. Begitu juga sebaliknya.
Perempuan yang paling mempesona adalah Istri yang shalehah, Istri yang ketika Suami memandangnya pasti menyejukkan mata, ketika Suaminya menuntunnya kepada kebaikan maka dengan sepenuh hati dia akan mentaatinya, jua tatkala Suami pergi maka dia akan amanah menjaga harta dan kehormatannya. Istri yang tidak silau dengan gemerlap dunia melainkan Istri yang selalu bergegas merengkuh setiap kemilau ridha Suami.
Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah Suami yang memuliakan Istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah Istrinya. Suami yang menjadi qawwam Istrinya. Suami yang begitu tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan Istrinya. Suami yang menjadi seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki 'Surga'. Dia memegang teguh firman Allah, "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka..." (QS. At-Tahrim [66] : 6)
Akhirya, semuanya mudah-mudah tetap berjalan dengan semestinya. Semua berlaku sama seperti permulaan. Tidak kurang, tidak juga berlebihan. Meski riak-riak gelombang mengombang-ambing perahu yang sedang dikayuh, atau karang begitu gigih berdiri menghalangi biduk untuk sampai ketepian. Karakter Suami-Istri demikian, Insya Allah dapat melaluinya dengan hasil baik. Sehingga setiap butir hari yang bergulir akan tetap indah, fajar di ufuk selalu saja tampak merekah. Keduanya menghiasi masa dengan kesyukuran, keduanya berbahtera dengan bekal cinta. Sama seperti syair yang digaungkan Gibran,
Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesyukuran tersungging di bibir senyuman
Semoga Allah selalu menghimpunkan kalian (yang saling mencintai karena Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan. Mudah-mudahan Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kalian bening saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang menyelamatkan. Semoga Allah memampukan kalian membingkai keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah.
Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam keluarga. Jua Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan tidak hanya di dunia yang serba fana tapi sampai ke sana, the real world 'Akhirat'. Mudah-mudahan kalian selamat mendayung sampai ketepian.
Allahumma Aamiin. (Gaw)
Bayu Gawtama
LifeSharer
SOL - School of Life
085219068581 - 087878771961
twitter:
@bayugawtama
@schoolof_life
السلا م عليكم ورحمة الله وبر كا ته
WELCOME IN MY BLOG
Minggu, 15 Januari 2012
Sabtu, 14 Januari 2012
Banyak Amanah
Ini cerita lagi tentang seorang akhi dan berbagai permasalahannya. Ikhwan yang satu ini memang dikenal dalam kelompoknya sebagai seorang aktivis kelas berat di kampusnya. Namanya pun tercatat hampir di setiap struktur organisasi intra atau ekstra kampus yang kredibel baik yang umum maupun yang berbau dakwah. Dan mungkin juga karena kesibukannya tersebut beliau belum berani untuk menyempurnakan separuh diennya walaupun sudah beberapa kali di tawari oleh sang ustad. Dan suatu kali akhi kita ini datang terlambat dalam pertemuan rutin mingguannya di rumah ustad, suatu hal yang jarang terjadi karena sang akhi termasuk yang selalu ” harisun ‘ala waqtihi ” . Sang Ustadpun bertanya penuh selidik,
“Baru kali ini antum terlambat, ada masalah apa di kampus, atau di DPC mungkin ? ”
“Ah enggak ustad, afwan nih, biasa anak-anak LDK bikin dauroh rekrument dan tadi habis Ashar ane diamanahi untuk ngisi , dan afwan juga ustad, nanti mungkin ane izin pulang lebih dulu, karena ada amanah juga ngisi anak-anak Remas di dekat kost ane.”
“Akhi, antum tahu nggak kelemahan antum selama ini..?”
“Enggak tahu Ustad”
“Antum ini terlalu punya banyak amanah tapi tidak satupun ‘Aminah’ yang antum punya, jadinya ya seperti itu lah..”
Al Akh yang satu inipun tertunduk tersipu-sipu, sudah bujangan diledek lagi. Sementara para ikhwan yang lain yang semuanya sudah berkeluarga, tertawa ringan penuh kemenangan.
“Baru kali ini antum terlambat, ada masalah apa di kampus, atau di DPC mungkin ? ”
“Ah enggak ustad, afwan nih, biasa anak-anak LDK bikin dauroh rekrument dan tadi habis Ashar ane diamanahi untuk ngisi , dan afwan juga ustad, nanti mungkin ane izin pulang lebih dulu, karena ada amanah juga ngisi anak-anak Remas di dekat kost ane.”
“Akhi, antum tahu nggak kelemahan antum selama ini..?”
“Enggak tahu Ustad”
“Antum ini terlalu punya banyak amanah tapi tidak satupun ‘Aminah’ yang antum punya, jadinya ya seperti itu lah..”
Al Akh yang satu inipun tertunduk tersipu-sipu, sudah bujangan diledek lagi. Sementara para ikhwan yang lain yang semuanya sudah berkeluarga, tertawa ringan penuh kemenangan.
Fatwa Menikah
Suatu sore di akhir Ramadhan, beberapa orang ikhwah tampak sedang bercengkrama di teras masjid Baitul Hikmah, Cilandak sambil menunggu waktu berbuka puasa. Mereka semua adalah para peserta I’tikaf Ramadhan yang datang dari tempat yang berbeda-beda. Dan mereka kini terlibat pembicaraan serius tentang kegiatan dakwah di kampusnya masing-masing. Beberapa saat kemudian datang seorang Ikhwah dengan tergesa-gesa, membawa suatu kabar.
” Assalamualaikum wr wb, Ikhwan semua, antum sudah dengar belum ada fatwa terbaru dari Dewan Syariah, baru keluar pagi tadi lho !”
Dengan serempak mereka menjawab,
” Waalaikum salam, fatwa terbaru tentang apa akhi ? ”
” Tentang Menikah !”
” Menikah ? apa saja isi fatwa tersebut ? ”
” Isinya cuma satu pasal tapi penting, bahwa mulai sekarang seorang Ikhwan tidak boleh menikah dengan akhwat satu kampus.”
Semua ikhwah yang mendengar terkejut, dan saling memberi komentar satu sama yang lain.
“Apa alasannya akhi, khan tidak melanggar syar’i ?”
“Kok bisa begitu, lalu bagaimana sama yang sudah berproses, langsung dibatalkan ya ..”
“Ane kira ini untuk kepentingan perluasan dakwah juga ..”
“Kalau ane sih milih sami’na wa atho’na saja..”
Setelah beberapa saat terjadi tukar pendapat satu sama lain, akhirnya sang Akhi yang datang bawa kabar tersebut dengan mimik serius menjelaskan,
“Tenang Akhi.., fatwa tersebut memang harus di dukung dan ada dalilnya kok, bukankah Syariah Islam membatasi seorang Ikhwan untuk menikah hanya sampai dengan empat orang akhwat, maka bagaimana mungkin seorang ikhwah mau menikah dengan ‘akhwat satu kampus’ yang jumlahnya ratusan ..!”
” Assalamualaikum wr wb, Ikhwan semua, antum sudah dengar belum ada fatwa terbaru dari Dewan Syariah, baru keluar pagi tadi lho !”
Dengan serempak mereka menjawab,
” Waalaikum salam, fatwa terbaru tentang apa akhi ? ”
” Tentang Menikah !”
” Menikah ? apa saja isi fatwa tersebut ? ”
” Isinya cuma satu pasal tapi penting, bahwa mulai sekarang seorang Ikhwan tidak boleh menikah dengan akhwat satu kampus.”
Semua ikhwah yang mendengar terkejut, dan saling memberi komentar satu sama yang lain.
“Apa alasannya akhi, khan tidak melanggar syar’i ?”
“Kok bisa begitu, lalu bagaimana sama yang sudah berproses, langsung dibatalkan ya ..”
“Ane kira ini untuk kepentingan perluasan dakwah juga ..”
“Kalau ane sih milih sami’na wa atho’na saja..”
Setelah beberapa saat terjadi tukar pendapat satu sama lain, akhirnya sang Akhi yang datang bawa kabar tersebut dengan mimik serius menjelaskan,
“Tenang Akhi.., fatwa tersebut memang harus di dukung dan ada dalilnya kok, bukankah Syariah Islam membatasi seorang Ikhwan untuk menikah hanya sampai dengan empat orang akhwat, maka bagaimana mungkin seorang ikhwah mau menikah dengan ‘akhwat satu kampus’ yang jumlahnya ratusan ..!”
Makan dan Kerja
Seorang ikhwah sedang dalam proses menuju pernikahan. Kali ini ia diundang oleh orangtua si akhwat – yang telah dikhitbah olehnya beberapa hari sebelumnya – untuk makan siang bersama di rumah sang Bapak. Sang mahasiswa sempat keder dan berusaha menolak undangan tersebut dengan berbagai macam alasan acara dan aktivitas. Namun alhamdulillah, sang ikhwah nampaknya tidak diundang sendirian, melainkan bersama keluarganya.
Tiba saatnya makan siang, kedua keluarga telah siap di depan meja makan. Sang Akhwat tak nampak di antara yang hadir, mungkin aktivitas dapur lebih menarik dan lebih ‘aman’ baginya. Sang Bapak pemilik rumah menawarkan pada pada para tamu untu segera memulai menikmati hidangan. Dan mulailah para tamu mengambil hidangan secara bergantian, dan menikmatinya. Adalah sudah menjadi gambaran umum bagi seorang ikhwah untuk selalu ‘itqon’ dalam setiap aktivitasnya. Demikian juga akhi kita tersebut, sebagaimana sudah menjadi ‘fitrah’ dan kebiasaannya di kost-kostannya yang dulu, ia pun makan dengan lahap dan cepat, jauh meninggalkan para hadirin yang lain. Bagi para ikhwah, hal tersebut adalah wajar dan manusiawi. Tapi bagi seorang calon mertua ?. Benar juga, sang calon mertua agak terkejut dengan aktivitas makan calon menantunya tersebut. Mungkin ia berpikir, ” kok ustad makannya banyak ya ? “. Keterkejutan ini berdampak pada perubahan wajah dan pandangan matanya. Keterkejutan tersebut tampaknya diketahui oleh Bapak sang Akhi, dan membuat beliau menjadi agak malu juga. Akhirnya sang Bapak Pemilik rumah tak bisa menyembunyikan keheranannya, dan berkata menyindir,
“Wah .., Nak Budi makannya lahap juga ya .? “.
Sang Akhi sempat kaget juga menyadari sindiran tersebut, demikian juga Bapaknya yang merasa ikut tersindir. Suasana seketika berubah menjadi serba kikuk dan canggung. Namun Akhi kita ini sudah terbiasa berhadapan dengan situasi seperti itu. Untuk memecahkan kebekuan singkat tersebut, dengan cepat ia menjawab secara yakin ,
“Iya Pak, kalau untuk makan saja nggak semangat, gimana nanti kerjanya .?”
Suasana menjadi hidup kembali, nampaknya semua sepakat dengan jawaban calon menantu tersebut. Kalau untuk makan – yang nota bene nikmat dan mudah- saja kita nggak semangat atau malas, bagaimana kalau kita dihadapkan pada sebuah pekerjaan atau aktivitas dakwah yang berat ?
Tiba saatnya makan siang, kedua keluarga telah siap di depan meja makan. Sang Akhwat tak nampak di antara yang hadir, mungkin aktivitas dapur lebih menarik dan lebih ‘aman’ baginya. Sang Bapak pemilik rumah menawarkan pada pada para tamu untu segera memulai menikmati hidangan. Dan mulailah para tamu mengambil hidangan secara bergantian, dan menikmatinya. Adalah sudah menjadi gambaran umum bagi seorang ikhwah untuk selalu ‘itqon’ dalam setiap aktivitasnya. Demikian juga akhi kita tersebut, sebagaimana sudah menjadi ‘fitrah’ dan kebiasaannya di kost-kostannya yang dulu, ia pun makan dengan lahap dan cepat, jauh meninggalkan para hadirin yang lain. Bagi para ikhwah, hal tersebut adalah wajar dan manusiawi. Tapi bagi seorang calon mertua ?. Benar juga, sang calon mertua agak terkejut dengan aktivitas makan calon menantunya tersebut. Mungkin ia berpikir, ” kok ustad makannya banyak ya ? “. Keterkejutan ini berdampak pada perubahan wajah dan pandangan matanya. Keterkejutan tersebut tampaknya diketahui oleh Bapak sang Akhi, dan membuat beliau menjadi agak malu juga. Akhirnya sang Bapak Pemilik rumah tak bisa menyembunyikan keheranannya, dan berkata menyindir,
“Wah .., Nak Budi makannya lahap juga ya .? “.
Sang Akhi sempat kaget juga menyadari sindiran tersebut, demikian juga Bapaknya yang merasa ikut tersindir. Suasana seketika berubah menjadi serba kikuk dan canggung. Namun Akhi kita ini sudah terbiasa berhadapan dengan situasi seperti itu. Untuk memecahkan kebekuan singkat tersebut, dengan cepat ia menjawab secara yakin ,
“Iya Pak, kalau untuk makan saja nggak semangat, gimana nanti kerjanya .?”
Suasana menjadi hidup kembali, nampaknya semua sepakat dengan jawaban calon menantu tersebut. Kalau untuk makan – yang nota bene nikmat dan mudah- saja kita nggak semangat atau malas, bagaimana kalau kita dihadapkan pada sebuah pekerjaan atau aktivitas dakwah yang berat ?
Resep Kue Pernikahan
Bagi yang sudah menikah dan yang akan mau menikah, kue perkawinan ini diperlukan untuk mengingatkan & direnungkan. Bagi yang belum menikah kue ini untuk bahan masukan, supaya jangan salah adonan.
Silahkan mencoba !!!
KUE PERNIKAHAN
Bahan :
1 pria sehat,
1 wanita sehat,
100% Komitmen,
2 pasang restu orang tua,
1 botol kasih sayang murni.
Bumbu:
1 balok besar humor,
25 gr rekreasi,
1 bungkus doa,
2 sendok teh telpon-telponan,
5 kali ibadah/hari
Semuanya diaduk hingga merata dan mengembang.
Tips:
Pilih pria dan wanita yang benar-benar matang dan seimbang.
Jangan yang satu terlalu tua dan yang lainnya terlalu muda karena dapat mempengaruhi kelezatan.
Sebaiknya dibeli di toserba bernama TEMPAT IBADAH, walaupun agak jual mahal tapi mutunya terjamin.
Jangan beli di pasar yang bernama DISKOTIK atau PARTY karena walaupun modelnya bagus dan harum baunya tapi kadang menipu konsumen atau kadang menggunakan zat pewarna yang bisa merusak kesehatan.
Gunakan Kasih sayang cap “DAKWAH†yang telah mendapatkan penghargaan ISO dari Departemen Kesehatan dan Kerohanian.
Cara Memasak:
Pria dan Wanita dicuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat yang murni.
Siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu orang tua secara merata.
Masukkan niat yang murni kedalam loyang dan panggang dengan api merata sekitar 30 menit didepan penghulu.
Biarkan di dalam loyang tadi dan sirami dengan bumbunya. Kue siap dinikmati.
Catatan:
Kue ini dapat dinikmati oleh pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati dalam keadaan hangat.
Tapi kalau sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta beberapa potong doa kemudian dihangatkan lagi di oven ber merek “Tempat Ibadahâ€.
Setelah mulai hangat, jangan lupa telepon-teleponan bila berjauhan.
Selamat mencoba, dijamin semuanya halal koq!
Silahkan mencoba !!!
KUE PERNIKAHAN
Bahan :
1 pria sehat,
1 wanita sehat,
100% Komitmen,
2 pasang restu orang tua,
1 botol kasih sayang murni.
Bumbu:
1 balok besar humor,
25 gr rekreasi,
1 bungkus doa,
2 sendok teh telpon-telponan,
5 kali ibadah/hari
Semuanya diaduk hingga merata dan mengembang.
Tips:
Pilih pria dan wanita yang benar-benar matang dan seimbang.
Jangan yang satu terlalu tua dan yang lainnya terlalu muda karena dapat mempengaruhi kelezatan.
Sebaiknya dibeli di toserba bernama TEMPAT IBADAH, walaupun agak jual mahal tapi mutunya terjamin.
Jangan beli di pasar yang bernama DISKOTIK atau PARTY karena walaupun modelnya bagus dan harum baunya tapi kadang menipu konsumen atau kadang menggunakan zat pewarna yang bisa merusak kesehatan.
Gunakan Kasih sayang cap “DAKWAH†yang telah mendapatkan penghargaan ISO dari Departemen Kesehatan dan Kerohanian.
Cara Memasak:
Pria dan Wanita dicuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat yang murni.
Siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu orang tua secara merata.
Masukkan niat yang murni kedalam loyang dan panggang dengan api merata sekitar 30 menit didepan penghulu.
Biarkan di dalam loyang tadi dan sirami dengan bumbunya. Kue siap dinikmati.
Catatan:
Kue ini dapat dinikmati oleh pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati dalam keadaan hangat.
Tapi kalau sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta beberapa potong doa kemudian dihangatkan lagi di oven ber merek “Tempat Ibadahâ€.
Setelah mulai hangat, jangan lupa telepon-teleponan bila berjauhan.
Selamat mencoba, dijamin semuanya halal koq!
Ta’aruf Unik
Seorang ikhwan yang kuliah di semester akhir berazzam untuk menyempurnakan separuh dien-nya. Sebagaimana biasa, beliau pun menghubungi ustadnya dan memulai proses dari awal sampai akhirnya tiba saatnya untuk taaruf, yaitu dipertemukan dengan calonnya. Tibalah hari dan jam yang telah ditentukan, dengan semangat seorang aktivis, beliau datang tepat waktu di sebuah tempat yang telah di janjikan ustad. Taaruf pun dimulai, sang akhi duduk disebelah murobby, sementara agak jauh di depannya sang akhwat di temani murobbiyahnya dengan posisi duduk menyamping menjauhi sudut pandangan si ikhwan. Setelah sekian lama berlalu tak ada pembicaraan, sang murobby berbisik pelan pada mad’unya yang malu-malu ini,
“Gimana akhi, sudah lihat akhwatnya belum, sudah mantap apa belum ?”
“Sudah Ustad, saya mantap sekali ustad, akhwatnya yang sebelah kiri itu khan?”
Murobbynya kaget, wajahnya berubah agak kemerahan. ” Eh..gimana antum ! yang itu istri saya !”
“Gimana akhi, sudah lihat akhwatnya belum, sudah mantap apa belum ?”
“Sudah Ustad, saya mantap sekali ustad, akhwatnya yang sebelah kiri itu khan?”
Murobbynya kaget, wajahnya berubah agak kemerahan. ” Eh..gimana antum ! yang itu istri saya !”
ANEKDOT
Seorang Akhi muda yang baru lulus S-2 di luar negeri ditanya oleh ustadnya mengenai kriteria akhwat yang diinginkannya. Maka dengan segala idealisme sebagai seorang Ikhwan, mulailah ia mencari-cari kriteria dan menuliskan hampir lebih dari sepuluh kriteria, kemudian menyerahkan pada ustadnya tersebut. Kriterianya sangat bermacam-macam dan agak mengada-ada. Dari yang pertama dia harus seorang akhwat, cantik, pendidikan tinggi, Suku Sunda, berkacamata, lulus dengan cumlaude, hafal sekian juz. dan demikian seterusnya. Setelah diproses oleh sang ustad, akhirnya ia diberitahu bahwa tidak ada akhwat yang bisa sesuai dengan 10 syarat tesebut. Kemudian sang Ikhwan mengurangi kriterianya menjadi 9, setelah diproses sekian minggu ternyata hasilnya nihil. Kemudian sang ikhwan mengurangi satu lagi dari kriterianya menjadi delapan. Dan setelah ditunggu sekian lama hasilnya tetap nihil karena terlau ideal kata ustadnya. Dan demikian seterusnya setiap kali gagal sang ikhwan mengurangi satu kriteria. Sampai setelah lewat lebih dari dua tahun sang Ikhwan akhirnya menemukan pasangan hidupnya.Tapi itupun setelah kriterianya tinggal satu!
Langganan:
Postingan (Atom)